Bencana Alam Kebumian di Indonesia

Bencana alam kebumian yang sering terjadi di Indonesia adalah gempa bumi, bencana vulkanik. kekeringan, banjir, siklon tropis, badai gurh, dan lain-lain.

Gempa Bumi
Gempa bumi adalah gerakan atau getaran pada kulit bumi yang disebabkan oleh tenaga endogen. Berdasarkan penyebabnya digolongkan menjadi:
  1. Gempa runtuhan, terjadi karena adanya runtuhan batuan. Gempa ini sangat lemah, hanya terasa di daerah sekitar kejadian.
  2. Gempa bumi vulkanik, terjadi karena erupsi gubung berapi. Gempa ini juga lemah, hanya dapat dirasakan di daerah sekitar kejadian.
  3. Gempa bumi teknonik, terjadi karena pergeseran letak kulit bumi. Kebanyakan dari gempa bumi yang terjadi adalah dari jenis gempa tektonik.
Diperkirakan dalam satu tahun terjadi satu juta gempa bumi. tetapi sebagian besar gempa itu tidak terdeteksi karena sangat lemah untuk direkam dengan alat bantu atau karena gempa terjadi pada daerah yang tidak ada penduduknya. Diantara sekian banyak gempa tersebut, sekitar 100 gempa pertahun menimbulkan kerusakan dan sekitar sekali setahun terjadi gempa bumi dahsyat. Alat untuk merekam gelombang seismik yang dipancarkan dari sumber gempa bumi disebut seismograf. 

Indonesia dilalui oleh dua sabuk seismik Lingkar Pasifik dan sabuk seismik Mediteran atau Alpide. Kedua sabuk seismik ini saling bertemu di Irian. Tiap tahun sekitar 80% energi gempa dilepaskan dari sabuk Lingkar Pasifik, 15% sabuk Mediteran, dan 5% dari gempa yang lain.

Kekeringan dan Kondisi Kering
Perlu dibedakan antara kekeringan (through) dan kondisi kering (aridity). Kekeringan adalah kondisi antara air yang tersedia dan air yang diperlukan, sedangkan ariditas diartikan sebagai keadaan dengan jumlah curah hujan sedikit. Kekeringan dapat terjadi di daerah dengan curah hujan tinggi yang disebabkan oleh beberapa faktor. Ariditas merupakan jabaran iklim didaerah tertentu yang dapat dikatakan tetap. Batasan kondisi kering adalah adanya penyimpangan peristiwa meteorologis yang ditandai dengan adanya defisit kelembapan tanah yang tidak normal dalam jangka waktu yang lama.

Penyebab kekeringan adalah gerak turun udara yang dominan akibat sel tekanan tinggi. Gerak turun ini menghalangi pembentukan awan sehingga kelembapan rendah dan terjadi defesiensi (kekurangan) curah hujan. Daerah yang dipengaruhi oleh tekanan tinggi semipermanen sepanjang tahun biasanya daerah gurun, misalnya gurun Gobi di Asia, gurn Sahara dan Kalahari di Arfika. Benua maritim Indonesia belahan bumi selatan sebagian kondisi iklimnya dipengaruhi oleh variasi sel tekanan tinggi yang bergantung pada musim atau pergerakan matahari. Kemarau panjang terjadi jika ada anomali pada sirkulasi atmosfer skala luas yang berlangsung satu bulan atau satu musim lebih lama. Intesitas keketingan meningkat jika dibarengi dengan peristiwa El Nino.

Siklon Tropis
Banjir
Cuaca dan iklim ekstrim selain menimbulkan bencana alam kekeringan juga menyebabkan banjir dibenua maritim Indonesia. Dalam musim moonson Barat  terutama dalam bulan Desember , Januari bahkan kadang-kadang bulan Februari di Pulau Jawa, dan kadang-kadang lebih awal pada bulan Novemver di Pulau Sumatera sering terjadi bencana alam banjir dan longsor. Dikawasan timur Indonesia, bencana alam banjir dikaitkan dengan munculnya siklon tropis yang bergerak ke Australia. 

Bencana alam banjir disebabkan oleh sel tekanan rendah pada daerah konvergensi intertropis dan sel tekanan rendah pada mata siklon tropis. Sel tekanan rendah ini menyebabkan konvergensi arus udara dan gerak udara ke atas (updraft) yang membawa uap air. uap air ini mengalami pendinginan sehingga terjadi perubahan fasa dari uap air menjadi tetes awan. Baik awan konvergensi maupun awan siklon tropis memunyai sistem cuaca skala meso atau makro yang dapat menyebabkan banjir skala luas jika ketidakseimbangan antara curah hujan, infiltrasi, dan limpasan. Intensitas bencana bancir meningkat jika dibarengi dengan peristiwa La Nina dan Siklon tropis.

Siklon tropis dikenal dengan nama berbeda bergantung pada lokasi kejadiannya. Di Atlantik dan pasifik bagian timur siklon tropis diberi nama "hurricanes" sebuah nama yang berasal dari suku pribumi kuno di Amerika Tengah yang dikenal Tainos. Untuk suku Tainos, "Huracan" adalah dewa kejahatan dan dari sinilah hurricanes diterima sebagai nama siklon tropis. Di pasifik bagian barat siklon tropis dikenal sebagai "typhoons", di Philipina disebut "bagious" sebuah nama yang berasal dari kota Baguio tempat curah hujan dalam periode 24 jam bulan Juli 1911 mencapai 1168 mm. Penamaan hurricanes di Atlantik dan typhoon di Pasifik hingga tahun 1978 dipakai nama-nama wanita, tetapi adanya pengaduan tentang prasangka seksual maka nama laki-laki sekarang biasa dipakai.

Siklon tropis menyebabkan berbagai kerusakan dan kerugian. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh angin kencang, gelombang badai, dan hujan lebat. Kerusakan harta milik yang disebabkan oleh angin saja bervariasi terutama dengan kualitas bangunan dan kecepatan angin maksimum. 

Badai Guruh dan Kilat
Menurut definisi, awan konvektif telah menjadi badai guruh, jika terdengar guruh (thunder) atau telah terlihat kilat (lightning). Dalam udara cukup lembab yang labil, awan konvektif dapat tumbuh sampai sangat tinggi dengan arus udara ke atas yang sangat kuat sehingga mengahasilkan hujan deras, batu es, kilat, dan guruh.

Eksistensi dan besarnya badai guruh meningkat dalam kawasan kota, jika penduduk melampui satu juta jiwa. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya emisi panas, meningkatnya konveksi termal melalui pulau panas (heat island), meningkatnya turbulensi karena perubahan wajah kota, dan meningkatnya jumlah aerosol yang diinjeksikan ke atmosfer oleh aktivitas manusia kota.

Kilat adalah kejadian luah listrik (discharge) tinggi dalam wanktu singkat. Kilat dapat terjadi antara awan dan tanah, antara awan dan udara lingkungan atau didalam awan. Kilat mungkin terjadi jika terdapat muatan ruang cukup tinggi, misalnya badai salju, badai pasir, dan letusan vulkanis. Karena terjadi pemanasan dan pemuaian udara sepanjang luah listrik dari awan ke tanah maka terdengar gelombang suara sebagai guruh, sehingga awan listrik disebut awan guruh atau badai guruh. Sambaran dari awan ke tanah terjadi sangat cepat dalam orde mikro detik. Akibatnya kolom udara dipanasi secara tiba-tiba pada temperature lebih dari 10.000 derajat celcius, sehingga udara dalam luah memuai sangat cepat yang menimbulkan gelombang bunyi sangat kuat yang terdengar sebagai guruh.

Referensi: Ilmu Kebumian dan Antariksa. Prof. Bayong Tjasyono, DEA.

Post a comment