Bola Langit

Pada artikel ini, kita akan membicarakan mengenai bola langit. Beberapa bagian pada bola langit seperti kutub langit selatan, kutub langit utara, ekuator langit, dan polaris akan dijelaskan secara singkat.

Berdasarkan fakta yang telah diketahui, bumi berotasi pada sumbunya dan berevolusi mengelilingi matahari. Tetapi para astronom zaman dahulu menyatakan seolah-olah bumi tetap dan benda langit seperti matahari, bulan, dan planet bergerak mengelilingi bumi. Konsep ini telah mengakar cukup lama dan walaupun "tidak benar" konsep ini merupakan cara yang baik untuk mengamati situasi. Bayangkan bintang bintang menempel pada bagian sebuah bola gelap raksasa yang berpusat pada bumi. Bola ini secara teoritis radiusnya adalah tak berhingga. Perhatikan gambar 1 yang menunjukkan bola langit dengan bumi sebagai pusatnya. Perlu dipahami bahwa gambar ini tidak dengan menggunakan skala yang benar (coba dipikirkan, mengapa tidak benar?).

Jika kita memperpanjang arah kutub bumi sampai di tak berhingga ke arah atas dan bawah, sampai keduanya memotong bola langit, kita akan sampai pada dua titik yaitu Kutub Langit Utara (KLU) dan Kutub Langit Selatan (KLS). Pada sumbu yang menghubungkan kedua titik ini, karena rotasi bumi , bola langit tampak berputar tiap hari.
Gambar 1. Bola Langit
Seperti pada permukaan bumi, dimana ekuator didefinisikan sebagai lingkaran yang berjarak 90 derajat dari kutub, ekuator langit didefinisikan sebagai lingkaran besar pada bola langit yang berjarak 90 derajat dari kutub langit. Dari gambar 1 terlihat bahwa kalau seseorang berdiri di kutub utara bumi, KLU akan tepat berada di atas kepalanya dan ekuator langit akan tepat berada sepanjang horizonnya. Tentu saja, baik kutub langit maupun ekuator tidak dapat dilihat secara langsung oleh kasat mata, tetapi di dekat posisi KLU terdapat sebuah bintang terang. Bintang ini dinamai Polaris karena kedekatannya pada KLU. Jika seseorang berdiri di ekuator bumi, ekuator langit akan tampak membentang di atas kepalanya, sementara kutub langit berada di horizon dan terpisah 180 derajat satu sama lain.

Sumber: Ilmu kebumian dan antrariksa. Prof. Bayong Tjasyono, DEA.

Previous
Next Post »
0 Komentar