Quasar: Pemancar Energi Misterius

Thomas Matthews dan Allan Sandage pada tahun 1960 menemukan sebuah benda seperti bintang redup yang disebut benda Quasar (quasistellar). Quasar dengan pergeseran merah yang kuat menunjukkan benda benda termuda yang dapat dilihat dalam alam semesta. Quasar adalah sumber gelombang radio yang kuat sehingga tampak seperti bintang. Ahli Astronomi radio menemukan sumber radio yang kuat di luar galaksi kita. Sampai sekarang lebih dari 200 quasar telah ditemukkan.

Quasar suatu objek memancarkan lebih banyak cahaya daripada sebuah bintang, tetapi tidak juah lebih besar dari sebuah bintang. Kata "quasi" dapat diartikan mirip tetapi bukan sebenarnya. Jadi quasistellar itu mirip sebuah bintang tetapi bukanlah bintang. Quassar merupakan objek mirip bintang jauh yang memancarkan cahaya sebanyak cahaya di seluruh galaksi bintang. Quassar dikenal jauh lebih kecil diameternya dibandingkan galaksi karena keragaman cahaya dari quassar adalah dalam orde hari, bukan tahun yang menyatakan bahwa quassar merupakan sumber cahaya yang memiliki diameter dalam orde jarak yang ditempuh cahaya dalam beberapa hari dan bukan beberapa tahun.


Pada tahun 1965, Sandage menemukan ada lebih banyak quasar yang secara optik tidak dapat dibedakkan dari sumber radio quasar (quasistellar radio sources) dalam hal struktur padatnya, kilapan permukaan yang tinggi, dan warnanya biru, tetapi sangat lemah memancarkan radiasi frekuensi radio. Perbedaan kedua benda tersebut sering terlihat dari singkatannya antara QSR (Quasistellar Radio Sources) dan QSO (Quasistellar Object) (Tanpa emisi frekuensi radio). Sekarang baik QSR dan QSO keduanya menyatakan tipe galaksi yang sama. Dimana hanya sedikit yang menderita "penyakit radio" (radio deases), jadi hanya nama quasar yang sekarang dipakai, apakah benda-benda tersebut memancarkan radiasi frekuensi radio atau tidak. Dari penyelidikan optik dan radio astronomis telah ditemukan ribuan quasar, misalnya katalog dari P. Veron-Cetty dan P. Veron berisi sekitar 4170 quasar dan katalog dari A. Hewitt dan Burbidge berisi 3570 quasar dengan pengukuran pergeseran merah.

Quasar bermula ditemukan karena emisi radio yang kuat. Gelombang radio berasal dari spektrum radiasi quasar. Spektrum radiasi quasar tidak seperti radiasi benda hitam tetapi menyerupai emisi synchroton adalah radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh elektron yang dipercepat, panjang gelombangnya bergantung pada intensitas medan magnetik dan kecepatan partikel bermuatan. Radiasi radio yang diberikan oleh elektron yang bergerak spiral mengelilingi garis gaya magnetik. Radiasi radio dari quasar dipolarisasikan , sehingga sychroton menghasilkan radiasi radio dari quasar. Perlu dicatatn bahwa radiasi synchroton memerlukan persediaan awan elektron energetik dan medan magnetik kuat. Karena itu model quasar memasukan kedua parameter tersebut.

Karena keterbatasan kepekaan alat-alat astronomis, maka hanya quasar yang paling terang saja yang tampak pada jarak yang jauh, sehingga hal itu sulit untuk mengambil kesimpulan evolusi semua quasar dari kekilapannya. Tetapi kajian Schmidt tentang evolusi quasar menyimpulkan bahwa benda-benda ini mempunyai evolusi secara cepat ketika alam semesta masih baru. Sekitar 8 atau 9 milyar tahun yang lalu, secara pendekatan lebih dari seratus ribu kuasar berada di langit daripada yang ada sekarang. Dan baru 5 milyar yang lalu, kira-kira pada waktu bumi terbentuk jumlah keberadaan kuasar melimpah sekiat 100 kali lebih besar daripada jumlah quasar sekarang. Dari perhitungannya, Schmidt menyimpulkan bahwa 15 juta quasar nampak pada teleskop-teleskop besar, ditandai dengan titik titik pada bulatan angkasa. Tetapi mayoritas quasar berada sangat jauh dan memerlukan waktu yang lama quasar ini mengirimkan foton-foton ke bumi sehingga energinya akan habis. Seperti halnya bola bola api, quasar berkembang dengan cemerlang pada waktu yang silam kemudian padam sebelum mengenai bumi, kebanyakan quasar pada masa sekarang menjadi gelap, dan bara raksasanya menyebar meliputi ruang angkasa.

Sumber Referensi: Ilmu Kebumian dan Antariksa. Prof, Bayong Tjasyono.


Previous
Next Post »
0 Komentar