Fisika: Pelajaran IPA yang Menakutkan

Judul tulisan ini menunjukkan sebuah rasa "ngenes" dari seorang pengajar fisika (lebih tepatnya penulis). Mengapa demikian? Menemui siswa yang beragam rasanya menyenangkan, mulai dari siswa dengan predikat sekolah favourit ataupun siswa dari sekolah yang mendengar nama sekolahnya saja harus melipat dahi (tidak untuk menyepelakan tetapi saking tidak tahu). Bahkan saking menakutkannya fisika, munculah sebuah masalah bahwa mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran yang tidak menyenangkan. Pertanyaannya, salah apa sehingga terjadi demikian. Apakah salah mata pelajarannya, gurunya, atau memang fisika tercipta untuk tidak dipelajari (rasanya kalimat terakhir jauh sekali dari kebenaran).


Fisika Sebagai Mata Pelajaran
Apa yang terpikir dalam mata pelajaran fisika? Rumus setumpuk yang selalu muncul rumus turunan atau rumus baru. Inilah kalimat yang sering terlontar dari seorang siswa mengenai fisika. Filosofi fisika sendiri merupakan kajian terhadap fenomena. Fenomena tersebut tentunya melekat pada aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh gesekan. Gesekan adalah satu konsep dalam fisika yang memberikan manfaat terhadap kehidupan manusia. Manusia bisa berjalan, salah satu penyebabnya adalah karena ada gesekan alas kaki dengan permukaan lantai. Manusia bisa melihat adalah fenomena yang melibatkan fisika, utamanya adalah optik. Yang perlu dikaji dari mata pelajaran fisika adalaah manfaat yang dirasakan oleh manusia, baru dari manfaat tersebut menunju konsep yang akan dipelajari dari fisika. Tidak bisa dipungkiri, untuk belajar fisika membutuhkan sebuah alat yaitu matematika. Jika alatnya memadai, maka pekerjaan akan mudah terselesaikan. Sama halnya ketika belajar fisika, ketika kemampuan matematika siswa menunjang, ketika siswa memahami konsep fisikanya, masalah-masalah fisika menjadi terasa mudah (relative). Yang sering terjadi adalah siswa faham konsep, lemah matematika. Ini menjadikan fisika seolah-seolah sesuatu yang sulit sekali untuk dipelajari. Bahkan penulis menemukan seorang anak (dalam ruang kelas) yang berkata " saya sejak lahir sudah tidak bisa fisika".


Rasanya lemas mendengar perkataan tersebut, stigma negatif fisika sulit menjadi sudah tertanam di otak. Jika kita berandai-andai, seandainya Newton, dan Einstein masih hidup, kemudian siswa tersebut diajar mereka, apakah mereka akan mengatakan fisika itu sulit? Peluang "ya" dan 'tidak" sama besarnya. Letaknya adalah bukan siapa yang harus mengajarinya tetapi jelas bagaimana pengajar menyampaikan fisika menjadi pengalaman menarik bagi siswa. Ini adalah sesuatu yang langka dalam pembelajaran. Mau metode ceramah ketika siswa merasa terlibat dalam pengalaman belajar, mereka akan menjadi pembelajar yang menyenangkan pula.

Post a comment